Selasa, 14 Mei 2013

TAHAPAN STRATEGI PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH



TAHAPAN STRATEGI PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH
Disusun oleh   :
Ahmad Fadil[1]
Abstrak
Penulisan ini bertujuan  untuk menjelaskan tentang strategi penerapan pendidikan karakter di sekolah. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Berdasarkan kajian nilai-nilai agama, norma-norma sosial, peraturan/hukum, etika akademik, dan prinsip-prinsip HAM, telah teridentifikasi butir-butir nilai yang dikelompokkan menjadi lima nilai utama, yaitu (1) Nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, (2) Nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri, (3) Nilai karakter dalam hubungannya dengan sesama, (4) Nilai karakter dalam hubungannya dengan lingkungan, dan (5) Nilai karakter dalam hubungannya dengan kebangsaan. Dalam pelaksanaannya pendidikan karakter tidak dapat dilakukan secara instan, tetapi harus dilakukan secara bertahap dan menggunakan strategi yang sesuai dengan kondisi. Tiga tahapan strategi yang harus dilalui agar terbentuknya manusia yang berakhlak mulia atau insan kamil yaitu, moral knowing, moral loving, dan moral doing.
Kata Kunci : strategi, pendidikan karakter

PENDAHULUAN
Keberhasilan suatu bangsa dalam memperoleh tujuannya tidak hanya ditentukan oleh melimpah ruahnya sumber daya alam, tetapi sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Bahakan ada yang mengatakan bahwa “ Bangsa yang besar dapat dilihat dari kualitas/karakter bangsa (manusia) itu sendiri.”
Pembangunan bangsa dan pembangunan karakter (nation and character building) merupakan dua hal utama yang perlu dilakukan bangsa Indonesia agar dapat mempertahankan eksistensinya. Keduanya seolah-olah merupakan dua sisi dari mata uang yang sama. Pembangunan bangsa harus berbarengan dengan pembangunan karakter demikian pula sebaliknya. Hal ini pula yang tersirat dalam syair lagu kebangsaan kita “Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya.” Membangun jiwa adalah membangun karakter manusia dan bangsa. Inti karakter adalah kebajikan (goodness) dalam arti berpikir baik (thinking good), berperasaan baik (feeling good), dan berperilaku baik (behaving good). Dengan demikian karakter itu akan tampak pada satunya pikiran, perasaan, dan perbuatan yang baik dari manusia-manusia Indonesia atau dengan kata lain dari bangsa Indonesia.[2]
Seiring dengan kemajuan bangsa Indonesia menuju negara berkebangsaan modern semakin tampak perlunya pendidikan karakter sebagai suatu tema utama dalam pembangunan pendidikan nasional. Agar tidak mengulangi sejumlah kegagalan pada masa lalu, pendidikan karakter perlu direncanakan, diimplementasikan (diterapkan), dan dievaluasi secara sistematik.
Komitmen nasional tentang perlunya pendidikan karakter, secara imperatif tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam Pasal 3 UU tersebut dinyatakan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Jika dicermati 5 (lima) dari 8 (delapan) potensi peserta didik yang ingin dikembangkan terkait erat dengan karakter.[3]
Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat.
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.


KAJIAN TEORI
Pendidikan Karakter
M. Furqon Hidayatullah mengutip pendapatnya Rutland (2009: 1) yang mengemukakan bahwa karakter berasal dari akar kata bahasa Latin yang berarti dipahat. Secara harfiah, karakter artinya adalah kualitas mental atau moral, kekuatan moral, atau reputasinya (Hornby dan Parnwell, 1972: 49).[4] Hermawan Kertajaya (2010 : 3) mendefinisikan karakter adalah “ciri khas” yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah “asli” dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut dan merupakan mesin pendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berujar, dan merespon sesuatu.[5]
Menurut Doni Koesoema Albertus, karakter diasosiasikan dengan temperamen yang memberinya sebuah definisi yang menekankan unsur psikososial yang dikaitkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan. Karakter juga dipahami dari sudut behavioral yang menekankan unsur somatopsikis yang dimiliki oleh individu sejak lahir. Disini, karakter dianggap sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri atau karakteristik tau gaya atau sifat khas dari diri seseorang, yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya pengaruh keluarga pada masa kecil dan bawaan seseorang sejak lahir.[6]
Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib. Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku).
Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya).
Pendidikan karakter, menurut Ratna Megawangi (2004: 95), “Sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya.” Definisi lainnya dikemukakan oleh Fakry Gaffar (2010: 1) : “Sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu.” Dalam definisi tersebut, ada tiga ide pikiran penting, yaitu : 1) proses transformasi nilai-nilai, 2) ditumbuhkembangkan dalam kepribadian, dan 3) menjadi satu dalam perilaku.[7]
Nilai-nilai Karakter
Berdasarkan kajian nilai-nilai agama, norma-norma sosial, peraturan/hukum, etika akademik, dan prinsip-prinsip HAM, telah teridentifikasi butir-butir nilai yang dikelompokkan menjadi lima nilai utama[8], yaitu :
A.     Nilai Karakter dalam Hubungannya dengan Tuhan
B.      Nilai Karakter dalam Hubungannya dengan Diri Sendiri
1.         Jujur
2.         Bertanggung Jawab
3.         Bergaya Hidup Sehat
4.         Disiplin
5.         Kerja Keras
6.         Percaya Diri
7.         Berjiwa Wirausaha
8.         Berpikir Logis, Kritis, Kreatif, dan Inovatif
9.         Mandiri
10.     Ingin Tahu
11.     Cinta Ilmu
C.      Nilai Karakter dalam Hubungannya dengan Sesama
1.         Sadar Hak dan Kewajiban Diri dan Orang Lain
2.         Patuh pada Aturan-aturan Sosial
3.         Menghargai Karya dan Prestasi Orang Lain
4.         Santun
5.         Demokratis
D.     Nilai Karakter dalam Hubungannya dengan Lingkungan
E.      Nilai Karakter dalam Hubungannya dengan Kebangsaan
1.         Nasionalis
2.         Menghargai Keberagaman

PEMBAHASAN
Pendidikan karakter membutuhkan proses atau tahapan secara sistematis, sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak didik. Menurut Ary Ginanjar Agustian, pembangunan karakter tidaklah cukup hanya dimulai dan diakhiri dengan penetapan misi. Akan tetapi, hal ini perlu dilanjutkan dengan proses yang dilakukan secara terus menerus sepanjang hidup.[9]
Dalam pendidikan karakter menuju terbentuknya akhlak mulia dalam diri setiap siswa ada tiga tahapan strategi yang harus dilalui, yaitu :
1.            Moral Knowing/Learning to Know
Tahapan ini merupakan langkah pertama dalam pendidikan karakter. Dalam tahapan ini tujuan diorientasikan pada penguasaan pengetahuan tentang nilai-nilai. Siswa harus mampu : a) membedakan nilai-nilai akhlak mulia dan akhlak tercela serta nilai-nilai universal; b) memahami secara logis dan rasional (bukan secara dogmatis dan doktriner) pentingnya akhlak mulia dan bahaya akhlak tercela dalam kehidupan; c) mengenal sosok Nabi Muhammad SAW. Sebagai figur teladan akhlak mulia melalui hadits-hadits dan sunahnya. [10]
Dimensi-dimensi yang termasuk dalam moral knowing untuk memgisi ranah kognitif adalahkesadaran moral (moral awareness), pengetahuan tentang nilai-nilai moral (knowing moral values), logika moral (moral reasoning), keberanian dalam mengambil sikap (decision making), dan pengenalan diri (self knowledge).[11]
2.            Moral Loving/Moral Feeling
Belajar dengan melayani orang lain. Belajar mencintai dengan cinta tanpa syarat. Tahapan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa cinta dan rasa butuh terhadap nilai-nilai akhlak mulia. Dalam tahapan ini yang menjadi sasaran guru adalah dimensi emosional siswa, hati, atu jiwa, bukan lagi akal, rasio dan logika. Guru menyentuh emosi siswa sehingga tumbuh kesadaran, keinginan, dan kebutuhan sehingga siswa mampu berkata kepada dirinya sendiri, “Iya, saya harus seperti itu.....” atau “Saya perlu mempraktikan akhlak ini...” Untuk mencapai tahapan ini guru bisa memasukinya dengan kisah-kisah yang menyentuh hati, modelling, atau kontemplasi. Melalui tahap ini pun siswa diharapkan mampu menilai dirinya sendiri (muhasabah), semakin tahu kekurangan-kekurangannya.[12] 
Moral feeling merupakan penguatan aspek emosi peserta didik untuk menjadi manusia berkarakter. Penguatan ini berkaitan dengan bentuk-bentuk sikap yang harus dirasakan oleh peserta didik, yaitu kesadaran terhadap jati diri (conscience), percaya diri (self esteem), kepekaan terhadap penderitaan orang lain (empathy), cinta kepada kebenaran (loving the good), pengendalian diri (self control), dan kerendahan hati (humility).[13]
3.            Moral Doing/Learning to do
Inilah puncak keberhasilan mata pelajaran akhlak, siswa mempraktikan nilai-niai akhlak mulia itu dalam perilakunya sehari-hari. Siswa menjadi semakin sopan, ramah, hormat, penyayang, jujur, disiplin, cinta, kasih dan sayang, adil serta murah hati dan seterusnya. Selama perubahan akhlak belum terlihat dalam perilaku anak walaupun sedikit, selama itu pula kita memiliki setumpuk pertanyaan yang harus selalu dicari jawabannya. Contoh atau teladan adalah guru yang paling baik dalam menanamkan nilai. Siapa kita dn apa yang kita berikan. Tindakan selanjutnya adalah pembiasaan dan pemotivasian.[14]
Moral doing/Moral action  merupakan perbuatan atau tindakan moral yang merupakan hasil (outcome) dari dua komponen karakter lainnya. Untuk memahami sesuatu yang mendorong seseorang melakukan perbuatan yan baik (act morally), harus dilihat tiga aspek lain dari karakter. Ketiga aspek tersebut antara lain kompetensi (competence), keinginan (will), dan kebiasaan (habit).[15]
Pengembangan karakter dalam sistem pendidikan adalah keterkaitan antara komponen-komponen karakter yang mengandung nilai-nilai perilaku. Hal ini dapat dilakukan secara bertahap dan saling berhubungan antara pengetahuan nilai-nilai perilaku dengan sikap atau emosi yang kuat untuk melaksanakannya, baik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara, serta dunia internasional. Kebiasaan berbuat baik tidak selalu menjamin pelakunya secara sadar menghargai pentingnya nilai karakter (valuing). Sebab, mungkin saja perbuatannya tersebut dilandasi oleh rasa takut untuk berbuat salah, bukan karena tingginya penghargaan terhadap nilai itu. Misalnya, seseorang berbuat jujur karena ingin dinilai oleh orang lain, bukan karena keinginannya yang tulus untuk menghargai nilai kejujuran itu sendiri.[16]
Menurut UNESCO-UNEVOC, the first challange for the educator to examine the level of teaching that is engaging the learner. There are basicallythree levels of teaching: facts and concept-knowing and understanding; valuing-reflecting on the personal level; acting-applying skills and competencies. Hal ini menunjukan bahwa tantangan pertama bagi pendidik untuk menguji tingkat pengajaran yang melibatkan siswa pada dasarnya ada tiga. Pertama, pengajaran; yang berisi fakta dan konsep artinya belajar untuk mengetahui dan memahami. Kedua, sikap-nilai, melalui refleksi; dan ketiga, tindakan-keterampilan melakukan (UNESCO-APNIEVE, 2002: 24).[17]
Hal ini diperjelas oleh Quisumbing dalam siklus belajar dan pengajaran sebagai berikut :






Teaching and Learning Cycle
Menurut Quisumbing (UNESCO-APNIEVE, 2005: 29)


Affective level
VALUING
Reflecting, accepting, respencting, appreciating, one self and other's work values, personal and socialgoals (internalize as apart of one's value system)

Active level
ACTING
application in the work place and in daily life: decision making, communication skills, teamwork, non violent coffict resoluation, etc. (action and practice)


UNDERSTANDING
one  self and other's, concepts, key issques, processes, underlying  factors (insight, awareness, realization)
)

Cognitive level
KNOWING
about one self and other; one's awork and vocation and those of other's; one's personal and work related values (facts, information, ets.)

 




















Pada tahap satu, cognitif level knowing berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat baik diri sendiri maupun orang lain dalam suatu pekerjaan berkaitan dengan peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dan sebagainya. Dan pengetahuan merupakan parameter fakta dan konsep.
Tahap dua, conceptual level-understanding, kemampuan untuk mengungkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Adanya kemampuan yang dinyatakan dalam menguraikan isi pokok dari suatu bacaan. Pengetahuan yang disertai dengan pemahaman menuntun pada sebuah makna/pengertian yang mendalam
Tahap ketiga, Affective level (valuing) pengetahuan dan pemahaman belum tentu memberikan jawaban bahwa nilai/sikap akan terinternalisasikan dan terintegrasikan. Konsep nilai yang disaring melalui pengalaman seseorang dan hasil refleksi akhirnya ditegaskan dalam dimensi afektif. Cakupan afektif dalam lingkup kecil/pendek, ditempuh melalui tiga proses, yaitu: proses pilihan (choosen), penghargaan (prize), dan tindakan (acted). Perkembangan berikutnya ada penambahan pada tahapan afektif ini, yaitu appreciate (menghargai), acceptance (menerima), dan respect ( menghormati) yang semuanya merupakan suatu sistem nilai.
Tahap empat, active level, konsep nilai yang akhirnya dinilai untuk mengarah pada tindakan. Apakah tindakan itu dinyatakan untuk meningkatkan keterampilan berkomunikasi, pengambilan keputusan yang lebih baik, bekerja dalam sebuah tim, tanpa konflik kekerasan dan lain sebagainya baik di tempat kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Uraian diatas menunjukkan bahwa sekurang-kurangnya seorang guru harus mempunyai tiga kompetensi. Pertama, kompetensi pengetahuan. Kedua, kompetensi sikap/nilai, dan ketiga, kompetensi keterampilan/tindakan.

PENUTUP

Kesimpulan
Pendidikan karakter tidak dapat dilaksanakan secara instan, tetapi perlu ada strategi dalam penerapannya. Diantara strategi yang dapat dilakukan dalam menerapkan pendidikan karakter yaitu :
-          Moral Knowing/Learning to Know, siswa dituntut untuk bisa menguasai pengetahuan tentang nilai-nilai, baik itu nilai positif dan negatif.
-          Moral Loving/Moral Feeling, belajar mencintai dengan cinta tanpa syarat. Tahapan ini dimaksudkan supaya siswa menumbuhkan rasa cinta dan rasa butuh terhadap nilai-nilai akhlak mulia.
-          Moral Doing/Learning to do, inilah puncaknya, siswa mempraktikan nilai-niai akhlak mulia itu dalam perilakunya sehari-hari. Moral doing/Moral action  merupakan perbuatan atau tindakan moral yang merupakan hasil (outcome) dari dua komponen karakter lainnya.

Saran
Seluruh lembaga pendidikan hendaknya mulai sekarang menjadi garda terdepan dalam melaksanakan pendidikan karakter. Dengan tidak melupakan juga peran dari keluarga, masyarakat, dan lain sebagainya.
Kepada semua pengelola pendidikan diharapkan untuk mulai menerapkan sedikit demi sedikit pendidikan karakter karena sasaran pendidikan bukan hanya kepintaran dan kecerdasan, tetapi juga moral dan budi pekerti, watak, nilai, serta kepribadian yang tangguh, unggul, dan mulia.
Seorang guru hendaknya tidak hanya berperan sebagai seorang pengajar, tetapi dia juga harus mampu menjadi seorang teladan, inspirator, motivator, dinamisator, dan evaluator yang kritis, inovatif, dan produktif bagi peserta didiknya.



DAFTAR PUSTAKA

Majid, Abdul dan Dian Andayani. 2011. Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Asmani, Jamal Ma’mur. 2011. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Yogyakarta : DIVA Press.
Dharma Kesuma, dkk. 2011. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Budimansyah, Dasim. 2010. Penguatan Pendidikan Kewarganegaraan untuk Membangun Karakter Bangsa. Bandung : Widya Aksara Press.



[1] Penulis adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Arab semester 1, NIM : 12420103
[2] Dasim Budimansyah, Penguatan Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Membangun Karakter Bangsa (Bandung : Widya Aksara Press, 2010), hlm. 1.
[3] Dasim Budimansyah, Penguatan Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Membangun Karakter Bangsa (Bandung : Widya Aksara Press, 2010), hlm. 50.
[4] Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah (Yogyakarta : DIVA Press, 2011), hlm. 28-29.
[5] Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 11.
[6] Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah (Yogyakarta : DIVA Press, 2011), hlm. 29-30.
[7] Dharma Kesuma, dkk, Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 5.
[8] Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah (Yogyakarta : DIVA Press, 2011), hlm. 36.
[9] Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual; ESQ, Emotional Spiritual Quotient (Jakarta : Arga, 2008), hlm. 278.
[10] Abdul Mujid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 112.
[11] Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah (Yogyakarta : DIVA Press, 2011), hlm. 86.
[12] Abdul Mujid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 112-113.
[13] Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah (Yogyakarta : DIVA Press, 2011), hlm. 86-87.
[14] Abdul Mujid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 113.
[15] Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah (Yogyakarta : DIVA Press, 2011), hlm. 87.
[16] Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah (Yogyakarta : DIVA Press, 2011), hlm. 87-88.
[17] Abdul Mujid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 113.